Di suatu pagi menjelang siang, kurang lebih pukul 11.00, pada hari rabu
tanggal 14 November 2012 cuaca sedikit berawan. Bel sudah berdering sejak 15
menit yang lalu. Seharusnya pelajaran BTQ (baca tulis Al quran) sudah berakhir
sejak 15 menit yang lalu. Karena saat itu sedang ulangan, maka guru BTQ meminta
waktu sebentar kepada guru mata pelajaran berikutnya, yaitu PKn. Ulangannya
bukan ulangan tulis pilihan ganda atau essai, tetapi kami disuruh untuk menulis
tajwid di papan tulis. Pilihan tajwid sesuai pilihan guru. Yang ditulis
pengertiannya, hurufnya dan contohnya. Ulangannya sebenarnya serem-serem
gampang. Seremnya kita disuruh menghafal tajwid yang segitu banyak dan
gampangnya ternyata saat ulangan NYONTEK BUKU TAJWID NGGAPAPA. Karena alasan
ini banyak teman-teman yang slow aja.
Tapi ini bukan inti dari cerita. Inti ceritanya ada setelah ulangan BTQ.
Setelah bapak pelajaran BTQ keluar, masuklah guru PKn. Beliau membawa sebuah
tas yang kami semua tau isinya, laptop. Setelah duduk di kursi guru yang empuk
itu, beliau mengeluarkan isi dari tasnya dan segera memasangnya dengan kabel
LCD. Setelah beberapa kali mengklik untuk mencari data yang akan dijadikan
bahan ajar, sampailah beliau pada data yang diinginkan. Namun setelah
ditampilkan ternyata isinya hanya satu slide dan hanya soal-soal. Diatasnya
tertera judul yang berbunyi “ULANGAN
HARIAN PKN”. Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaak……………. Ini dia, ulangan yang paling
dibenci seluruh pelajar Indonesia yaitu ulangan dadakan. Lanjut ke ulangan.
Kemudian si bapak hanya berkata pendek yang kurang lebihnya seperti ini
“Silakan kerjakan di kertas ulangan”. Sebenernya kami mau protes, tetapi
terlalu takut buat bilang sama gurunya karena beliau terkenal sebagai guru yang
–you know whatlah-. Setelah itu, ketua kelas langsung minta duit ke bendahara
dan beli kertas ulangan di kopeasi yang jaraknya kurang lebih cuma 5 meteran
dari kelas kami, XII IPA 2. Kertas ulangan sudah dibagikan. Kami menulis soal
satu persatu. Karena kami tidak mengerti harus menuliskan jawaban apa di kertas
ulangan dan juga karena ini bukan pelajaran bahasa Indonesia untuk membuat
karangan bebas, maka kami melakukan jurus terjitu kalangan para pelajar, ‘NGEBET’. Bwahahahahahaha…. (tertawa ala
pahlawan bertopeng).
Dimulailah aksi kami. Lks sudah disiapkan di kolong meja. Sang
guru masih betah dengan arsip nilai dan laptopnya. Tentunya ini kesempatan
paling pas deh buat kita-kita. ‘srek-srek’ suara tiap lembaran lks yang dibuka
udah mulai kedengeran. Tapi entah gurunya ngga denger atau emang dibiarin aja,
gue nggatau. Karena emang suaranya pelan-pelan (ya jelas, masa mau nyontek
kenceng-kenceng bukanya!). Karena suara-suara ini, kami mulai lebih waspada dan memperhatikan setiap gerak-gerik sang guru agar tidak ketahuan. Dan yang paling lucky lagi, beberapa menit setelah
itu, guru kami tidur saudara-saudara! Bayangkan?? Tidur!!! Inilah yang paling
dinanti-nanti saat-saat ulangan. Dengan segera kamipun mengerjakan soal dengan
baik dan saksama. Suasana kali itu, waspadanya kami turunkan menjadi siaga. Bisikan-bisikan pertanyaan juga mulai memfrontal saat guru kami tidur.
Kurang lebih 15 menit sebelum bel, guru kami ini bangun dan
mulai beraksi dengan keluar dari kursi tempat persembunyiannya alias dari meja guru.
Baru aja berdiri, serentak terdengar bunyi ‘sreksrskrkkrskkk’. Yang ngga ngerti
tulisannya ini maksudnya bunyi lks yang lagi buru-buru dimasukkin ke laci. Sumpah
itu serentak banget dan tanpa aba-aba pula. Sebenernya ada sih aba-abanya,
yaitu pas guru pkn keluar dari meja guru. Bukan gue dan temen-temen gue aja
yang kaget karena peristiwa ‘serempak masukin lks ke laci’ tadi, tapi guru pkn
pun juga shock ~lebay~. Yaiyalah, cuma orang bodoh aja yang ngira itu bukan
dari suara lks yang lagi dimasukkin ke laci. Beberapa detik sebelum reaksi dari
guru pkn, kami mulai dagdigdug. Tapi detik berikutnya malah bapak guru bilang
begini “Loh? Kenapa dimasukkin? Buka aja lksnya!”. Bwahahahahahaha….. Kami
sekelas serentak ketawa. Ternyata ulangan kali ini boleh open book saudara-saudara.
Apa gunanya uji mental tadi kalo ujungnya kaya gini? Ckckck… Setelah itu, kami
hidup dengan damai dan tentram karena ulangannya boleh open lks ;). Plus dapet
permen dari bapak guru pkn kami lagi. Makasih Bapak :).
-TAMAT-
Jadi, pelajaran yang dapat diambil dari cerita tadi adalah ‘malu
bertanya, sesat dijalan’. Karena kami malu alias takut buat nanya kalo ulangan
kali ini boleh open book apa ngga, kami malah ngebet alias nyontek. Padahal
kalo kami nanya, pasti ngga bakalan pake uji adrenalin dulu, tinggal liat lks
sesuka hati tanpa waspada terhadap apapun.
Trimsky!